Kamis, 23 Juli 2015

SYARAT KALIMAT DAN ALAT PENGETESNYA



SYARAT KALIMAT DAN ALAT PENGETESNYA

oleh
Meilinda Purnama Sari 
purnamasarimeilinda@gmail.com
meilindapurnamasari.blogspot.com

ABSTRAK
Dalam proses komunikasi kita di tuntut memiliki bahasa Indonesia dengan baik agar dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal dalam ekspresi ataupun komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Persyaratan pokok dalam penentuan sebuah pernyataan berupa kalimat atau bukan,yaitu : 1) Adanya unsur predikat, 2) Permutasi unsur kalimat. Kedua hal itu dapat dijadikan alat pengetes. Persyaratan kalimat ada pada bentuk tulisan berupa huruf kapital, diakhiri tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya. Setiap kalimat dalam struktur lahirnya lisan atau tulis sekurang-kurangnya memiliki predikat. Dengan kata lain, jika suatu pernyataan memiliki predikat, pernyataan itu merupakan kalimat, sedangkan suatu untaian kata yang tidak memiliki predikat maka disebut frasa.

KATA KUNCI
Predikat, subjek, objek, keterangan, pelengkap, kalimat, frasa, verba

PENDAHULUAN
Menurut Hasan Alwi dkk dalam (Abud Prawirasumantri 2011:8) Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran yang utuh. Pikiran yang utuh itu dapat diekspresikan dalam bentuk lisan ataupun tulisan.
Dalam bentuk tulisan  : kalimat yang ditandai dengan alunan titik nada, keras lembutnya suara, disela jeda, dan diakhiri dengan nada selesai.
Dalam bentuk tulisan : kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
Seorang pelajar sering tidak memperhatikan kalimat yang dibuatnya sehingga kalimatnya tidak memenuhi kaidah pembuatan kalimat yang benar. Pelajar hendaknya memiliki wawasan bahasa Indonesia yang memadai agar ia dapat menghasilkan kalimat yang gramatikal, baik dalam komunikasi lisan ataupun tulis.
Dalampenulisan tugas, penulis dituntut untuk memiliki kemampuan dalam penyusunan kalimat baku dan kalimat eferktif. Kebakuan kalimat ditandai dengan adanya penerapan kaidah kalimat bahasa indonesia baku. Keefektifan kalimat ditandai oleh ketepatan kalimat untuk mewakili gagasan yang sama tepat dalam pikiran pembaca. 

Syarat Kalimat dan Alat Pengetesnya
Dalam proses komunikasi kita di tuntut memiliki bahasa Indonesia dengan baik agar dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal dalam ekspresi ataupun komunikasi, baik lisan maupun tulisan, dan kita dapat mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan orang lain apakah gramatikal atau tidak. Maka dalam hal ini, kita harus memahami persyaratan pokok dalam penerapan sebuah pernyataan berupa kalimat atau bukan, dengan cara: 1) Adanya unsur predikat 2) Permutasi unsur kalimat.
Setiap kalimat dalam struktur lahirnya lisan atau tulis sekurang-kurangnya memiliki predikat. Dengan kata lain, jika suatu pernyataan memiliki predikat, pernyataan itu merupakan kalimat, sedangkan suatu untaian kata yang tidak memiliki predikat maka disebut frasa. Untuk menentukan predikat sutau kalimat, dapat dilakukan pemeriksaan apakah verba (kata kerja) dalam untaian kata itu.
Contoh :
1)   Burung itu terbang.
2)      Hamparan padi itu menguning.
3)      Anak itu belajar.
4)      Orang itu menulis surat.
Pada contoh itu ada verba 1) terbang, 2) menguning, 3) belajar dan 4) menulis. untuk mengetahui verba keempat tersebut sebagai predikat atau bukan, perlu dilakukan tes permutas (perubahan urutan) unsur-unsur pernyataannya.
1a) Terbang // burung itu.
2a) menguning // hamparan padi itu.
3a) belajar // anak itu.
4a) menulis surat //orang itu.
Tentunya, perubahan urutan itu disertai perubahan intonasi (lagu kalimat). Dalam contoh (1a, 2a, 3a, dan 4a) tanda garis miring ganda (//) menandai batas satuan (unit), yaitu unsur yang dicalonkan sebagai predikat dan unsur yang dicalonkan sebagai subjek. Karena perubahan urutan itu tidak mengubah informasi dasar, contoh 91, 2, 3, dan 4) itu adalah kalimat.
Namun perhatikan contoh berikut.
5)    Anak yang belajar itu              5a) yang belajar itu // anak
Jika contoh (5) itu dipisahkan unsurnya menjadi anak dan yang belajar itu serta dipermutasikan menjadi yang belajar itu // anak, tampaknya ada perbedaan makna. Contoh (5) tampaknya tidak dapat dipisahkan seperti itu karena maknanya kurang lebih seperti terlihat jika contoh (5) itu dilengkapkan menjadi (5) anak yang belajar itu (berteriak) dan intonasinya pun tidak diputuskan, tetapi menjadi satu. Kata berteriak (yang ditambahkan itu) merupakan predikat dan yang mendahuluinya sebagai subjek sementara itu, contoh (5) yang diubah urutannya menjadi (5a) maknanya terlihat jika ditambahkan unsur pembanding. Jika makna (5a) ialah ‘yang belajar itu anak (bukan monyet)’. Oleh karena itu (5) dan (5a) berbeda informasinya. Dengan demikian itu bukankalimat tetapi frasa yang terdiri atas nomina anak dan pewatas yang belajar itu (bukan anak yang bermain). Jadi walaupun kata belajar verba, karena didahului penghubung yang, verba belajar itu bukan predikat, melainkan pewatas nomina seperti halnya adjektiva (kata sifat) pada frasa anak yang pandai.
Pada contoh (6) berikut tidak trdapat verba, tetapi terdapat nomina (kata benda) yang mengisi tempat predikat.
(6) Wanita itu // pedagang                  (6a) pedagang // wanita itu
Kata pedagang memiliki ciri sebagai predikat dan contoh (6) itu merupakan kalimat. Selain verba dan nomina, predikat suatu kalimat dapat pula berupa adjektiva (kata sifat).
(7) Gadis itu cantik                 (7a) cantik // gadis itu
Contoh (7) itu dapat diubah urutannya menjadi (7a) tanpa perubahan informasi. Oleh karena itu, contoh (7) itu merupakan kalimat.
(8) gadis yang cantik itu         (8a) yang cantik itu // gadis
Perubahan dari (8) menjadi (8a) menimbulkan perubahan makna. Pada (8a) maknanya menjadi ‘yang cantik itu gadis (bukan janda).’ Padahal, pada (8) makananya adalah ‘gadis yang cantik itu (bukan gadis yang biasa-biasa saja).’
Perbedaan kalimat dan frasa dapat kita lihat dalam pengertian frasa. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif, gabungan itu dapat rapat, dapat renggang; misal gunung tinggi adalah frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif; kontruksi ini berbeda dengan gunung itu tinggi yang bukan frasa karena bersifat predikatif. Harimurti Kridalaksana dalam (Abud Prawirasumantri 2011:89)
Dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

KALIMAT
FRASA
SUBJEK
PREDIKAT
OBJEK
INTI
PEWATAS
Anak itu
Belajar

Anak
Yang belajar itu
Orang itu
Menulis
Surat
Orang
Yang menulis surat itu
Wanita itu
Pedagang

Wanita
Yang pedagang itu
Gadis itu
Cantik

Gadis
Yang cantik itu
Dari contoh-contoh yang telah dibicarakan tersebut terlihat bahwa suatu pernyataan merupakan kalimat jika pernyataan itu dapat dibagi menjadi dua unsur. Dalam bentuk lisan (atau kalau dibaca), dua unsur itu dipisah jeda yang ditandai oleh pergantian dari intonasi naik ke intonasi datar (pada contoh-contoh di atas ditandai dengan garis miring ganda //). Relasi kedua satuan itu dinamakan relasi prediktif, yaitu relasi yang memperlihatkan hubungan subjek dan predikat atau dengan objek/pelengkap.sebaliknya, suatu unsur disebut frasa jika unsur itu terdiri atas dua kata atau lebih – idak tidak terdapat predikat di dalamnya – dan satu dari kata-kata itu sebagai inti serta yang lainya sebagai pewatas/penjelas. Biasanya frasa itu mengisi tempat subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan. Relasi kata yang menjadi inti dan kata yang menjadi pewatas/penjelas ini dinamakan atributif. Contoh lain adalah sebagai berikut.
(9) anak kecil itu // pandai sekali → pandai sekali // anak kecil itu.
Unsur anak kecil itu (subjek) yang menjadi intinya adalah anak karena dalam unsur itu dapat ditiadakan dan kata itu dapat mewakili unsur itu sebagai subjek (lihat 9a, 9b). Demikian juga,pandaisekali intinya adalah pandai karena kata pandai tidak dapat ditiadakan dan kata itu dapat mewakili unsur itu sebagai predikat (lihat 9a, 9c)
(9a) anak itu // pandai. → pandai // anak itu.
Tidak dapat dikatakan:
            (9b) *kecil itu // pandai sekali.
            (9c)*Anak kecil itu // sekali. (Artinya tidak sama dengan 9)
            Dalam hubungan dengan frasa ini ada dua pola susunan frasa, yaitu (1) inti terletak di kiri pewatas dan (2) inti di kanan pewatas artinya, (1) kata yang di depan adalah kata yang diterapkan (D) dan kata yang menyertainya adalah kata yang menerangkan (M) dan (2) kata yang di depanya adalah kata yang menerapkan (M) dan kata yang menyertainya adalah kata yang diterapkan (D).
Hubungan kata dalam frasa tampak pada tabel berikut.
INTI (D)
PEWATAS (M)
Anak
Kecil
Pandai
Sekali
Merah
Muda
Rumah
Besar
Paman
Saya
Rajin
Betul
Meja
Itu
Bagus
Benar
Kitab
Suci
PEWATAS (M)
INTI (D)
Sangat
Baik
Selembar
Kertas
Amat
Cepat
Para
Guru
Sungguh
Indah
Sudah
Dewasa
Akan
Datang
Masih
Belajar
Ingin
Makan

            kata itu juga dapat dipakai untuk menentukan unsur subjek dan predikat kalimat, terutama jika subjek dan predikat kalimat itu berupa nomina. Misalnya:
            (10) kuda itu // binatang → Binatang // kuda itu.
            Kata kuda dan binatang, keduannya termasuk nomina. Nomina mana sebagai subjek dan nomina mana sebagai predikat pada (10) itu? Dalam hal ini, nomina yang tidak disertai itu adalah predikat, sedangkan nomina yang disertai kata itu sebagai subjek. Jadi contoh (10) itu predikatnya adalah binatang dan subjeknya ialah kuda itu. Hal itu dapat dibuktikan dengan menempatkan kata itu pada kata binatang, meskipun urutan kata itu sama dengan (10), pemindahan kata itu menyebabkan perbedaan makna.
            (10) kuda itu binatang.
            (10a) kuda // binatang itu.
            Perubahan pada (10a) itu memperlihatkan bahwa kata kuda (yang tidak disertai kata itu) sebagai predikat (walaupun terletak didepan), sedangkan kata binatang (yang disertai kata itu) adalah subjek.
Kata adalah, ialah, dam merupakan juga dapat digunakan sebagai penanda suatu kalimat. Dengan kata lain, suatu pernyataan yang di dalamnya terdapat satu dari tiga kata itu menunjukan bahwa pernyataan itu merupakan kalimat.
(11) Neutron adalah partikel tanpa muatan listrik
Kalimat (11) adalah kalimat definisi. Dalam hal itu kata adalah masih dapat digantikan dengan kata ialah, tetapi tidak dapat diganti dengan merupakan. Penggantian adalah dengan merupakan menimbulkan perbedaan informasi, yaitu menimbulkan makna kalimat (11) itu sebagai definisi/uraian tentang neutron. Kata itu tidak dapat diposisikan dengan makna pasif ‘neutron dirupakan oleh partikel tanpa muatan listrik’. Sedangkan pemakaian adalah atau ialah mempunyai makna ‘neutron sama dengan partikel tanpa muatan listrik’.
Kebanyakan pernyataan yang menggunakan adalah merupakan batasan (definisi), sedangkan penanda predikat ialah lebih banyak membuat nomina (sesuatu) disebelah kiri (subjek) identik (sama) dengan nomina (sesuatu) disebelah kanan tanda predikat ialah. Namun, kadang-kadang penanda predikat adalah dan ialah dapat dipertukarkan, sedangkan penanda predikat merupakan kebanyakan dipakai untuk mendeskripsikan/menguraikan nomina (sesuatu) yang ada disebelah kiri penanda predikat merupakan.
Kata adalah dan ialah dalam contoh berikut bukan penanda predikat.
(12) kita memiliki jaminan, ialah rumah, mobil, dan tabungan.
(13) ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam pendidikan adalah sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Kata ialah itu bukan penanda predikat, predikat kalimat (12) itu adalah memiliki. Pemakaian kata ialah itu tidak tepat, seharusnya dalam struktur seperti (12) itu digunakan kata yaitu atau yakni yang berfungsi menjadi penghubung antar penjelasan (perincian) sesuatu yang telah disebut terlebih dahulu. Demikian juga kalimat (13). Kedua kalimat itu diubah sebagai berikut.
(12a) Kita memiliki jaminan, → yaitu/yakni → rumah, mobil, dan tabungan.
(13a)  Ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam pendidikan, → yaitu/yakni → sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Bagian kalimat setelah kata yaitu/yakni merupakan penjelas (pemerinci) kata (12) jaminan, sebaliknya, kata yaitu dan yakni bukan merupakan ciri predikat.
Dari ulasan tentang kalimat yang telah dikemukakan tersebut, dapat dikatakan bahwa suatu pernyataan merupakan kalimat jika di dalamnya pernyataan itu terdapat predikat dan subjek, baik disertai objek, pelengkap, atau keterangan maupun tidak, bergantung kepada tipe verba predikat kalimat tersebut. Jika ditulis, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Namun, kalimat perintah yang berupa larangan tidak diakhiri tanda baca. Dengan kata lain, dalam ragam bahasa tulisan diakhiri tanda baca. Dengan kata lain, dalam ragam bahasa tulisan untaian kata yang diawali dengan huruf kapital pada awal kata pertama dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya adalah kalimat menurut pengertian kaidah ejaan. Berikut dikemukakan dalam pedoman umum ejaan yang baik dan benar dalam pemakaian tanda baca.
Diakhiri tanda titik
(14) Atom adalah satuan terkecil dari satuan elemen kimia yang masih mempunyai identitas elemen tersebut.
(15) Afrika Selatan sedang dilanda musim panas.
Diakhiri tanda tanya
(16) Apakah peperangan tidak dapat dihentikan?
(17) Dapatkah senjata nuklir dihapuskan?
Diakhiri tanda seru
(18) Hentikan peperangan!
(19) Tulis semau kamu!
Tidak diakhiri tanda baca apa pun
(20) Dilarang meroko (DILARANG MEROKO)
(21) Harap antre  (HARAP ANTRE)
Apa yang telah dijelaskan tersebut adalah pengertian kalimat dilihat dari segi kelengkapan unsur gramatikal kalimat ataupun makna untuk kalimat yang dapat mandiri, kalimat yang tidak terikat pada unsur lain dalam penggunaan bahasa. Di dalam kenyataan penggunaan bahasa sehari-hari – terutama ragam bahasa lisan – terdapat tuturan yang hanya terdiri atas unsur subjek, predikat, objek, atau keterangan saja.
Seperti conoh:
A: Ayah ada di rumah? (subjek, predikat, dan keterangan)
B: Pergi. (Predikat saja)
A: Ibu? (Subjek saja)
B: Ke pasar. (Keterangan saja)
B: Anda mau menunggu? (Subjek dan Perdikat)
A: Ya! (Subjek saja)
B: Silahkan masuk! (predikat saja)
A: Terima kasih, (Subjek saja)
B: Duduk! ( predikat)
A: Asiyk benar, sedang baca apa? (keterangan, predikat, dan objek)
B: Novel baru. (objek saja)
B: Oh ya, minum kopi? ( predikat dan objek)
A: Boleh. (keterangan predikat saja)
Walaupun pernyataan-pernyataan tersebut tidak mempunyai kelengkapan unsur gramatikal, pernyataan-pernyataan itu merupakan kalimat (khusus ragam bahasa dialog).
Pernyataan kalimat dapat dilihat dari unsur predikat dengan menggunakan alat pengetesnya pemutasi unsur kalimatnya. Dengan demikian masyarakat dapat menggunakan kalimat yang efektif terhadap tata bahasa indonesia, dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal dalam ekspesi ataupun komunikasi, baik lisan ataupun tulisan, dan kita dapat mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan orang lain apakah gramatikal atau tidak.  Dengan begitu akan menghindarkan (lisan atau tulis) ketidak cermatan dalam menilai kelengkapan gagasan di dalam kalimat dan kepaduan antar unsur pembentuk kalimat.

DAFTAR PUSTAKA
Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Prawirasumantri, Abud. 2011. Sintaksis Bahasa Indonesia. Cianjur: UNSUR.

Rabu, 27 November 2013

PENDEKATAN SEMANTIK


BAB I
PEMBAHASAN

A.    Pendahuluan
Semantik yang bermula berasal dari bahasa Yunani mengandung makna to signify atau memaknai.Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian “tetang makna”.Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa , komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan terakhir.
Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi abstrak yang mengacu pada adanya lambang-lambang  tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tatanan dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu (Palmer, 1981: 5).
B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah penegertian makna dalam pemakaian sehari-hari?
2.    Bagaimanakah pengertian makna sebagai istilah?
3.    Bagaimanakah pengertian  makna dan pendekatan referensial?
4.    Bagaimanakah pengertian dalam pendekatan ideasional?
5.    Bagaimankah pengertian makna dalam pendekatan behavioral?
6.    Bagaimanakah penerapan tiga pendekatan dalam studi makna?
7.    Bagaimanakah proses kejiwaan dan penguasaan lambang dalam dalam pemaknaan?


C.    Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui  penegertian makna dalam pemakaian sehari-hari
2.    Mengetahui  pengertian makna sebagai istilah
3.    Mengetahui  pengertian  makna dan pendekatan referensial
4.    Mengetahui pengertian dalam pendekatan ideasional
5.    Mengetahui pengertian makna dalam pendekatan behavioral
6.    Mengetahui  penerapan tiga pendekatan dalam studi makna
7.    Mengetahui proses kejiwaan dan penguasaan lambang dalam pemaknaan





BAB II
PEMBAHASAN

Paparan tentang ciri-ciri bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik memberikan gambaran keluasan ruang lingkup keberadaan makna. Keluasan ruang lingkup itu ditandai oleh keterkaitan makna dengan (1) ciri-ciri atau unsur internal kebahasaan (2) unsur sosial budaya yang melatari, (3) pemakai, baik sebagai penutur maupun sebagai penanggap, serta (4) ciri informasi dan ragam tuturan yang disampaikan. Akibat keluasan ruang lingkup makna itu, lebih lanjut juga mengimbulkan berbagai perbedaan dalam merumuskan pengertian maupun dasar pendekatan yang digunakannya.
A.  Pengertian Makna Dalam Pemakaian Sehari-Hari
Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pemakaian.Apakah pengertian khusus kata makna tersebut serta pembedanya dengan ide, misalnya, tidak begitu diperhatikan.Sebab itu, sudah sejajarnya bila makna juga disejajarkan pengertiannya dengan arti, gagasan, konsep, pernyataan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi dan pikiran.Berbagai pengertian itu begitu saja disejajarkan dengan kata makna karena keberadaanya memang tidak pernah dikenali secara cermat dan dipilah secara tepat.
Dari sekian banyak pengertian yang diberikan itu, hanya arti yang dekat  pengertiannya dengan makna. Meskipun demikian, bukan berarti keduanya sinonim mutlak.Disebut demikian karena arti adalah kata yang mencakup makna dan pengertian (cf. Kridalaksana, 1982: 15).Pengertian gagasan pada dasarnya memiliki kesejajaran pengertian dengan pikiran maupun ide. Sebab itu, dalam bahasa Inggris  ketiga kata itu tercakup dalam kata thought. Lebih lanjut, thought sebagai aktivitas mental meliputi konsep maupun pernyataan (Hudson, 1980: 75). Apabila konsep berkaitan dengan olahan ingatan dan kesimpulan, maka istilah pernyataan berkaitan dengan proposisi dan statemen.Prosuposisi sebagai istilah juga diberi pengertian berbeda-beda. Sebagai gejala kejiwaan, proposisi adalah gejala kejiwaan, proposisi adalah isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan statemen. Sedangkan Lyons lebih cendrung mengartikan proposisi sebagai perwujudan ekspresi dalam bentuk kalimat, yang bisa benar atau salah (Lyons, 1979: 38).Selain itu, Harimurti memberi pembatasan pengertian batasan proposisi sebagai konsfigurasi makna yang menjelaskan isi dari pembicaraan, terjadi dari predikator yang berkaitan dengan satu argumen atau lebih (Kridalaksana, 1982: 139).Sehubungan dengan kajian ini, berbeda dengan rumusan diatas, proposisi diartikan sebagai pernyataan dasar yang masih berada dalam abstraksi pikiran penutur. Tatanan “saya lapar” yang masih berada dalam pikiran adalah contoh proposisi, sedangkan perwujudannya dalam kalimat, misalnya, tadi pagi saya tidak sarapan, seharian saya belum makan, dan sejumlah wujud kalimat lain yang mewakili proposisi “saya lapar” adalah pernyataan atau statemen.
Baik penyataan proposisi, maupun gagasan yang mencakup pengertian pikiran dan ide, konsep, pesan, dan maksud pada dasarnya merupakan aspek semantis yang harus dikembalikan dan berasal dari sender. Pesan atau massage disebut berada pada sender karena pesan adalah isi koumunikasi dalam sender yang diwadahi oleh tatanan lambang kebahasaan secara individual (Cherry, 1957: 304; Lyons, 1979: 36). Apabila pesan itu sudah ditransmisikan lewat signal atau tanda, maka isi pesan itu disebut informasi. Pemahaman informasi pada diri pembaca, biasa disebut dengan isi atau conteks. Menurut Lyons, kegiatan penyusuanan pesan tidak dapat terlepas dari enkonding, sedangkan usaha memahami pesan yang dilakukan penerima pesan disebut dekoding. Apabila dekoding gagal, informasi dan isi dapat  tinggal jadi pesan yang ada pada si penutur.dengan demikian, komunikasi itu pun belum berhasil.



B.  Pengertian Makna Sebagai Istilah
Kata makna sebagai istilah mengacu pada pengertian yang sangat luas. Sebap itu, tidak mengherankan bila Odgen & Richards dalam bukunya, The meaning of meaning (1923), mendaftar enam belas rumusan pengertian makna yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Adapun batasan pemberian makna dalam pembahasan ini.Makna ialah hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti (cf. Grice, 1957; Bolinger, 1981: 108). Dari batasan pengeritan  itu dapat diketahui adanya unsur pokok yang tercakup di dalamnya, yakni (1) makna adalah hubngan antara bahasa dan dunia luar, (2) penentuan hubungan terjadi karen adanya kesepakatan para pemakai, serta (3) perwujudan makna itu dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling mengerti.
Bagaimana bentuk antara hubungan antara makna dan dunia luar?Dalam hal ini terdapat tiga pandangan filosofis yang berbeda-beda antar yang satu dengan yang lainnya.Ketiga pandangan yang dimaksud itu adalah (1) realisme (2) nominalisme (3) konseptualisme.Realisme beranggapan bahwa terhadap wujud dunia luar, manusia selalu memiliki jalan pikiran tertentu.Terhadap dunia luar, manusia selalu memberikan gagasan tertentu. Sebab itu, pemaknaan antara “makna kata” dengan “wujud yang dimaknai”  selalu memiliki hubungan yang hakiki.
Pandangan bahwa antara “makna kata” dengan “wujud yang dimaknai” memiliki hubungan yang hakiki, akhirnya menimbulkan klasifikasi makna kata yang dibedakan antara yang konkret, abstrak, tunggal, jamak, khusus, maupun yuniversal. Penentuan bentuk hubungan itu ternyata tidak selamanya  mudah.   Batas antara benda kongkret dan abstrak, khusu atau universal, sering kali sulit ditentukan. Dalam situasi demikian, apa atau siapa yang menentukan, penentuan itu bersifat objekgtif ataukah subjektif? Selain itu, makna suatu kata, makna denotatumnya dapat berpindah-pindah.Kata mendung, misalnya, selain dapat diacukan pada benda, juga dapat diacukan ke dalam “suasana sedih”. Pada sisi lain, referen yang sama dapat ditunjukan oleh kata-kata yang berbeda-beda. Sudin sebagai guru, ayah dan anak-anaknya,  suami atau tetangga yang baik dapat disebut sebagai pak guru, bapak, mas oom maupun sebutan lainnya. Sebab itulah kaum nomalis menolak anggapan bahwa antara kata dengan wujud luar terdapat hubungan (Lyons, 1979: 111)
Dalam nominalisme, hubungan antar makna kata dengan dunia luar semata-mata bersifat arbitrer meskipun sewenang-wenang penentuan hubungannya oleh para pemakai dilatari oleh adanya konvensi.Sebab itulah, penunjuk makna kata bukan bersifat perseorangan, melainkan memiliki kebersamaan.Dari adanya simbolik bahasa yang tidak lagi diikat oleh dunia yang diacu itulah, bahasa akhirnya lebih membuka peluang untuk menjadikan media memahami realitas, bukan realitas yang dikaji untuk memahami bahasa.
C.  Pengertian Makna dan Pendekatan Referensial
Berarti telah diketahui, bahasa memiliki berbagai fungsi. Tiga fungsi bahasa yang relevan diangkat sebagai  pijakan awal pembahasan masalah (1) pendekatan referensial (2) pendekatan ideasional serta (3) pendekatan behavioral ini adalah, fungsi bahasa sebagai (1) wakil realitas yang menyertai sebagai proses berfikir manusia secara individual, (2) sebagai media yang dalam mengolah pesan dan menerima informasi,  serta (3) sebagai fakta sosial yang mampu menciptakan berbagai bentuk komunikasi. Apabila fungsi pertama menjadi pijakan awal pendekatan referensia, fungsi kedua menjadi dasar kajian pendekatan ideasional, makna fungsi ketiga adalah pusat pandang dari pendekatan behavioral.
Dalam pendekatan referensial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar.Sebagai lebel atau julukan, makna itu hadir karena adanya kesadaran pengamatan terhadap fakta dan penarikan kesimpulan yang keseluruhanny berlangsung secara subjektif.Terdapatnya julukan simbolik dalam kesadaran individual itu, lebih lanjut memungkinkan manusia untuk menyusun dan mengembangkan skema konsep. Kata pohon, misalnya, berdasarkan kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan, bukan hanya menunjuk jenis-jenis tumbuhan, melainkan memperoleh julukan sebagai “ciptaan”, “hidup”,  “fana”, sehingga pohon dalam baris puisi Goenawan Muhammad disebutnya.... berbagai dingin di luar jendela/mengekalkan yang esok yang mungkin tak ada.
Kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan dalam pemberian julukan, dan pemaknaan tersebut, berlangsung melalui bahasa.Akan tetapi, berbeda dengan bahasa keseharian, bahasa yang digunakan disitu adalah bahasa perseorangan atau private language (Harman, 1968).Dengan demikian, makna dalam skema konsep dapat merambah ke dunia absurt yang mempribadi dan terasing dari komunikasi keseharian.
D.  Pengertian Makna Dalam Pendekatan Ideasional
Kelemahan dalam pendekatan referensial, selain telah disebutkan diatas, juga dikaiakan dengan masalah adanya paradoksal antara keberantungan pada wujud yang diacu dan subjektifitas dalam memberi julukan. Selain itu, skema konsep yang dianggap bersifat individual, karena duni kita merupakan dunia yang satu ini jug,  pada akhirnya bisa menjadi milik bersama. Seorang petani adalah salah satu diantara petani lainnya, seorang penyair adalah satu diantara penyair lainnya. Kelemahan lain yang sangat menarik sehubungan dengan kajian dalam butir-butir ini adalah meniadakan hubungan hakiki makna dan bahasa sebagai hubungan antara bentuk dan isi, mencabut makna dari konvensi dan mengeluarkannya dair konteks komunikasi.
Dalam pendekatan idesional, makna adalah gambaran gagasan dari satu bentuk kabahsaan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Gambaran kesatuan hubungan antara makna dan bentuk kebahasaan itu secara jelas dapat dikaji dalam perumus Grice,..... X meant that P adn X mean that P entail P. Dengan kata lain, X berarti P dan X memaknakan P seperti dimiliki ole P. X dalam konsep Grice adalah perangkat kalimat sebagai bentuk kebahasaan yang telah dimiliki satuan gagasan. Kalimat yang berbunyi, X memaknakan P seperti yang dimiliki P memberikan gambaran tentang keharusan memaknai X sebgai P seperti yang telah berda dalam konvensi bahwa P adalah P.
Meletakan komponen semantik pada adanya satuan gagasan, bukan berarti pendekatan idesional mengabaikan makna pada aspek bunyi, kata, dan frase. Jerrold J. Katz mengungkapkan bahwa penanda semantis dari bunyi, kata, dan frase sebagai unsur-unsur pembangun kalimat, dapat langsugn diidentifikasi lewat kalimat. Dengan mengidentifikasi unsur-unsur kalimat itu sebagai satuan gagasan, diharapkan pemaknaan tidak berlangsung secara lepas-lepas, tetapi sudah mengacu pda kesatuan makna yang dapat digunakan dalam komunikasi (Katz, dalam Steinberg & Jokobovist, 1978: 297). Sebab itulah, apabila X adalah kata, menurut Grice, X has meaning NN if it is used and comunication (Grice, 1957). Atau dengan kata lain, kata setelah berada dalam komunikasi memiliki potensialitas makna yang bermacam-macam. Mungkin makna 1,2,3... N.
Sehubungan dengan kegiatan berpikir, manusia berpikir menggunakan bahasa yang juga bisa digunakan dalam komunikasi. Sebab itulah, kegiatan kegiatan pengolahan pesan lewat bahasa atau encoding, penyampaian pesan lewat bahasa atau koding, serta proses memahami pesan atau dekoding, dapat berlangsung dalam garis linier sebagai berikut.
Komponen pembabangun gagasan dalam enkode menurut Jerold Katz bisa saja tidak sama persis dengan kode. Akan tetapi, yang pasti, hubungan linear itu haru diikut daur, yakni hubunan timbal balik antara penyampai dan penerima pesan yang ditandai oleh adanya “saling mengerti”. Grice juga menyebutkan suatu bentuk kebahasaan itu dimaknai P oleh penutur adalah apabila pemaknaan P itu secara laras nantinya juga dimaknai P oleh pendengarnya.
E.  Pengertian Tentang Makna Dalam Pendekatan Behavioral
Dalam dua pendekatan yang telah diurai di depan, dapat diketahui bahwa (1) pendekatan reveresiala dapat mengkaji makna lebih menekankan pada fakta sebagai objek kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan secara individual, dan (2) pendekatan ideasional lebih menekankan pada keberadaan bahasa sebagai media dalam mengolah pesan dalam menyampaikan informasi. Keberatan dari pendekatan behavioral terhadap kedua pendekatan tersebut, salah satunya adalah, kedua pendekatan itu telah mengabaikan konteks sosial dan situasional yang oleh kaum behavioral dianggap berperan penting dalam menentukan makna.
Kritik lain terhadap pendekatan diatas adalah pada objek kajian utama yang justrul tidak pernah diobservasikan secara langsung. Pernyataan dalam kajian ideasional yang berkaitan dengan keselarasan pemahaman antara penutur dengan pendengar dalam memaknai kode misalnya, dalam pendekatan behavioral dianggap kajian spekulatif karena pengkaji dianggap tidak mampu meneliti karakteristik idea atau pikiran penutur pendengar, sejalan dengan katifitas pengolahan pesan dan pemahamannya. Sebab itualah, kajian makna yang bertolak dari pendekatan behavioral, mengkaji makna dalam peristiwa ujaran (speech event) yang berlangsung dalam situasi tertentu (speech situation). Satuan tuturan atau unit tekecil yang mangandung makna penuh dari keseluruhan atau speech event yang berlangsung dalam speech situation disebut speech act (Hymes, 1972: 56).
Penentuan makna dalam speech act menurut Searle harus bertolak dari berbagai kondisi dan situasi yang melatari pemunculanannya (Searle, 1969). Unik ujaran yang berbunyi masuk!  Misalnya dapat berarti “di dalam  garis” bila muncul misalnya dalam permainan bulu tangkis, “berhasil” bagi yang main lotre, “silahkan ke dalam”  bagi tamu dan tuan rumah, ”hadir” bagi mahasiswa yang dipresetasi Pak Dosen. Makna keseluruhan unit ujaran itu dengan demikian harus disesuaikan dengan latar situasi dan bentuk sosial interaksi yang mengkondisikannya.
Konsep yang antara lain dikembangkan oleh Autin , Here, Searle, Alston, dll., akhirnya juga tidak dapat terlepas dari kritik. Kritik utama, yang datang dari Chomsky, menganggap bahwa meletakan unsur luar bahasa sejajar dalam  bahasa dalam rangka menghadirkan makna, berarti menghilangkan aspek kreatif bahasa itu sendiri yang dapat  digunakan untuk mengekpresikan gagasan secara bebas. Bahasa sebagai suatu sistem adalah “sistem dari sistem”. Perbendaharaan kata atau leksikon pemakaiannya bukan hanya memperhatikan kaidah leksikal dan gramatikal, melainkan juga ditentukan oleh refresentasi semantik. Konponen refresentasi semantik yang menunjuk dunia luar pada dasarnya telah mengandung “sistem luar biasa” itu ke dalam dirinya. Dengan demikian, konteks sosial dan situasional sebagai sutu sistem bukan berada di luar bahasa, melainkan berada di dalam dan mewarnai keseluruahan sistem kebahasaan itu sendiri (cf. Mc Cawley, 1978: 176) baru setelah unsur yang tercakup di dalam deep structure itu laras, hadirlah surface struture yang pemunculannya dalam tuturan juga memperhatikan kaidah fonologi atau phonological rules. Konsep demikian, sedikit banyak juga mewaranai kajian semiotik yang dilaksanakan oleh Moris.   
F.   Penerapan Tiga Pendekatan Dalam Studi Makna
Dari ketiga pendekatan yang telah diuraika diatas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pertama mengaitkan makna dengan masalah nilai juga proses berfikir  manusia dalam memahami realitas lewat  bahasa secar benar, pendekatan kedua mengaitkan makna dengan kegiatan menysun dan meyampaikan kegiatan lewat bahas, dan pendekatan ketiga mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dalam konteks-sosialsituasional. Dengan demikian, keberadaan ketiga pendekatan tersebut lebih menyerupai satu rangkaian. Sebab itulah, Gilbert H. Harman, misalnya, yang tidak menyetujui pemakaian ketiga istilah pendekatan tersebut, lebih puas dengan menggunakan istilah three levels of meaning (1968)
Lebih lanjut, konsep dalam ketiga pendekatan itu masing-masing terus berkembang dan menebarkan pengaruhnya. Konsep dalam pendekatan pertama, misalnya yang dilandasi pemikiran para fisup seperti John Dewey, Rudolf  Carnap, maupun Bertad Russell, akhirnya memang lebih dengan kontemplasi dalam upaya memahami realitas secara benar. Kajian yang erat dengan masalah filsafat itupun sebenarnya tidak asing dari kehidupan manusia pada umumnya. Hal itu terjadi karena di samping mahluk berpikir, manusia adalah juga mahluk pencari makna, kegiatan soliloquy, ngudarasa, atau yang oleh Pak Anton Mulyono diindonesiakan dengan ekacakap, oleh Dewey diartikan sebagai ......... is the product and reflex of converse with others, sebagai suatu dialog antara diri dengan dunia luar yang telah bersif.....transedental.
Selain itu, dalam tingkatan yang paling sederhana, kata itu sendiri hadir karena adanya dunia luar. Kat perang bintang atau kartika yuda, bis susun, jembatan layang, adalah kata-kata yang hadir untuk menamai luar. Dengan demikian, pada tingkat awal, antara makan dan dunia luar. Dengan demikian, pada tingkat awal, antara makna dengan dunia luar memang terdapat wigati. Sebab itulah dalam kajian semantik, pendekatan referensial umumnya digunakan pada awal kajian. Bahkan tokoh seperti Stephen Ulman yang banyak memberikan kritikan terhadap refresential, konsep yang diajukan sehubungan dengan keberadaan makna, yakni name, ‘bentuk fonetis kata’ sense ‘pengertian’, serta thing ‘referen  acuan’ tidak lebih hanya pembahasan dari model pembagian signifiant dan signifie dari Sausure yang digabungkan dengan Basic triangle Ogden & Richard yang sebagai konsep yang oleh Ulman diketahui bertolak dari pendekatan referensial (Ulman, 1977:57)
Apabila pendekatan referensial lebih berpusat pada masalah “bagaimana mengolah suatu realitas secara benar” maka kajian semantik lewat pendekatan lewat pendekatan ideasional lebih menekankan pada masalah “bagaimana menyampaikan makan lewat struktur kebahasaan secar benar tanpa mengabaikan kesalarasan hubungannya dengan realitas”. Pusat permasalahan dalam pendekatan ideasional itu dalam kajiannya ternyata menunjukan adanya perbedaan. Pengkajian semantik yang bertolak dari kajian pandangan generatif transformasi, misalnya, meskipun sama-sama bertolak dari konsep dasar bahwa tata bahasa dalam setiap bahasa adalah a system of rules that expreses the correspondence between sound and meaning in this language (Comsky, 1971: 182), dalam pengembangan berikutnya menghadirkan dua kubu yang berbeda. Kedua kubu tersebut lazim disebut (1) semantik interpretif yang dikembangkan antara lain oleh Katz, Fodor, maupun Comsky sendiri dan Morris Helle, serta (2) semantik generatif yang dikembangkan sendiri oleh filmore, Bach, R lakop, George Lakoff, Mc Kauley, dan lain-lain (Lakoff, 1971: 232).
Perbedaan utama dari kedua itu ialah, kajian dalam semantik iteretatif beranggapan bahwa komponen refresentasi semantik memiliki tingkatan tersendiri sebelum deep strukture. Komponen refresentasi sematik itu berisis semantik content of lexical item yang akhirnya membentu post leksikal strukture sebagai butir leksikon yang membangun deep strukture (Chomsky, 1971: 185) wawasan tersebut tidak sesuai dengan pandangan semanti generatif yang sebenarnya juga berpijak pada konsep generatif transformasi yang dikembangkan oleh Chomsky. Bagi mereka, pemilihan tingkat komponen refresentasi sematis lewat struktur dalam itu pad dasarnya tidak perlu karena keduanya identik.
G.  Peroses Kejiwaan dan Penguasaan Lambang Dalam Pemaknaan
Dalam komunikasi sehari-hari, keempat unsur yang disebutkan Osgood di atas, bisa jadi tampil secara simultan dan spontan. akan tetapi ada kalanya proses mekanistis itu mengalami hambatan. Hali itu terjadi apabila penanggap menjumpai bentuk kgusus yang berada di luar pembendaharaan pengalamannya dalam komunikasi keseharian. Bentuk khusus tersebut menjadi “sesuatu yang asing” bagi penanggap, mungkin karena (a) pilihan kata dan penataan stukturnya, (b) acuan maknanya sudah dipertinggi,atau mungkin (c) gambar peristiwanya telah terasa lepas dari kehidupan rutin keseharian. Kalimat Goenawan Mohammad yang berbunti Sang Iblis adalah kecongkakan diterkam oleh fikiran ragu,adalah slah satu contoh paparan itu secara keseluruhan. Contohnya lain paparan demikian dpat dijumpai di dalam karya sastra, baik puisi maupun prosa fiksi.
Menjumpai paparan demikian, proses psikologis penanggap dalam upaya memahaminya menjadi rangkap. Hal itu terjadi karena kata bukan hanya berkaitan dengan denotatum, melainkan juga desingnatum. Dalam kegiatan designatif, mungkin sekali terjadi pembayangan yang bertentangan, mendatangkan keraguan. Dan mungkin juga absurd. Maka bukan hanya menunjuk pada tanda, bukan hanya menunjuk pada fakta keseharian, melainkan juga menunjukan hanya pada sesuatu yang mempribadi, pada realitas lain yang transcendental.
Dalam situasi demikian memory bukan hanya berkaitan dengan ingatan makna kata, relasi makna dalam stuktur maupun pemakaian, melainkan juga menunjuk pada skema konsep pada sejumlah julukan suatu fakta yang dibentuk oleh pikiran maupun pengetahuan penanggap. Dalam hal demikian itulah, konsep makna seperti yang diajukan oleh teori referensial menjadi begitu wigati. Sebab itulah, penanggap yang menguasai bahasa hanya pada tataran fungsi instrumental, yakni sebagai alat dalam memenuhi kebutuhan fisis sehari-hari, akan membaca paparan itu sebagai sesuatu yang “aneh”. Dalam hal demikian, keberadaan bahasa dalam fungsi personal, heuristik, dan imajinatif, sedikit banyak sudah harus dirambah oleh penanggap.  



BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Dapat disimpulkan pendekatan semantik ada tiga aspek, Pendekatan pertama mengaitkan makna dengan msalah nilai sea proses berpikir manusia dlam memahami realitas lewat bahasa secara benar, pendekatan kedua mengaitkan makna dengan kegiatan menyusun dan mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa, dan pendekatan ketiga mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dlam konteks sosial-situasional.
B. SARAN
Mengingat terbatasnya pengetahuan tim penulis, begitu pula kurangnya rasa ingin tahu dari tim penulis. Berharap pembaca bisa memaklumi jika terdapat adanya kesalahan dalam penulisan atau kata-kata dalam makalah yang tim penulis susun. Adapun kebenaran itu datangnya dari Allah SWT dan kekurangannya datangnya dari tim penulis. Tim penulis berharap pembaca tidak puas dengan makalah yang tim penulis buat ini dan pada akhirnya pembaca akan terus memperdalam pengetahuan yang sangat luas. Dalam makalah ini juga, tim penulis butuh kritikan dan saran guna perbaikan dimasa yang akan datang.




DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, 1985, Semantik Pengantar studi tentang makna, Malang: Sinar Baru Algensid.

Penilaian Akhir Semester 1 (PAS) Tahun Ajaran 2022-2024

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1.     Saat membuat teks hasil observasi, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam teks hasil ob...